Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Januari 2014

A Saintly Switch : to walk in other person's shoes



Karena hari ini libur, ada baiknya saya bagikan informasi mengenai film keluarga yang baru saya tonton. Film ini produksi Disney dan menceritakan kisah yang pastinya ada di kehidupan sehari-hari kita pribadi.

Kebanyakan pria (khususnya yang telah menjadi suami), tentunya akan bersikap seperti Dan Anderson (David Alan Grier) yang selalu menganggap tugas Sara Anderson (Vivica A Fox), sebagai seorang wanita/istri dan ibu yang memiliki dua orang anak, adalah pekerjaan yang gampang dan tak serumit tanggung jawabnya. Demikian pula dengan Sara yang selalu menganggap Dan tidak bertanggung jawab kepada keluarga, minim perhatian dan selalu mau menang sendiri.

Clarke dan Annette, anak mereka, benar-benar merasa tersiksa dengan keadaan yang terjadi di rumah mereka. Mereka harus selalu beradaptasi dengan lingkungan baru karena ayah mereka selalu berpindah klub. Ya, ayahnya adalah seorang gelandang di klub football yang karirnya mulai merosot dan harus selalu berpindah klub.

Untuk terakhir kalinya, Dan meminta keluarganya untuk pindah rumah, karena dia akan bergabung dengan klub Saints di New Orleans. Dengan berat hati, Sara dan anak-anaknya pindah ke lingkungan baru.

Rumah baru mereka adalah rumah lama bergaya victoria, yang telah ditinggal mati oleh pemiliknya. Tetangga baru mereka yang nyentrik, Aunt Fanny (Rue Mc Clanahan) dan burung beonya, Voltaire, menyambut mereka dengan senang hati.

Rumah baru mereka ternyata memiliki ruang rahasia, yang merupakan tempat pratik sihir pemilik terdahulu. Di buku yang ditemukan oleh Annette, mereka meka mencoba membuat racikan sihir dengan harapan akan membuat ayah dan ibu mereka akur.

Efek sihirnya bereaksi di pagi hari berikutnya. Ketika bangun, Sara terkejut mendapati dirinya berada di tubuh Dan, begitu juga sebaliknya.

Film ini mengajarkan kita untuk belajar berempati atas keadaan orang lain. Terkadang kita menganggap kehidupan orang lain lebih baik, lebih bahagia, lebih mudah, dan betapa inginnya kita menjalani kehidupan seperti itu. Kita juga terkadang sering menganggap betapa malangnya diri kita dibandingkan orang lain. Padahal, kita tidak tahu apa yang telah dilalui oleh orang tersebut.

Di film ini, Dan akhirnya tahu bagaimana repotnya menjadi seorang istri. Ia harus bangun pagi, memasak sarapan, mengantar anak sekolah, dan bahkan harus merasakan kehamilan yang sangat merepotkan di awalnya. Demikian juga dengan Sara, ia menjadi mengerti bagaimana kerasnya dunia pekerjaan suaminya, bagaimana suaminya berjuang untuk memberikan yang terbaik walaupun dalam tekanan latihan yang begitu keras dan padat.

Akhirnya mereka menyadari, jarangnya mereka berkomunikasi, membuat mereka saling curiga dengan kehidupan pasangannya. Dukungan positif dan kebutuhan untuk mengerti dan dimengerti serta komunikasi dua arah yang lancar tentunya akan membuat hubungan antar manusia, khususnya dalam pernikahan, menjadi lebih baik lagi.

Salam hangat,
Ingrid Tambun

Kamis, 09 Mei 2013

Europe On Screen 2013

Heloyha saudara,

hari ini akhirnya saya kesampaian juga untuk menghadiri pemutaran film Eropa di Alliance Francaise, Jln. Hasanuddin Medan, setelah Sabtu kemarin terlambat dan akhirnya batal nonton. Hari ini filmnya diputar tepat waktu pukul 19.00 WIB dan berakhir pukul 20.20 WIB.

The Giants (Les Geants) adalah film drama dari negara Belgia (2011) yang berdurasi 84 menit. Film ini berkisah tentang Seth, Zac dan Danny yang bersiap menjalani liburan yang membosankan di pedesaan Luksemburg saat musim panas tiba. Mereka mengisi liburan dengan mencuri makanan, membawa mobil kakeknya yang telah meninggal, menyewakan rumah peninggalan kakeknya untuk mendapatkan uang. Nyatanya apa yang mereka alami tidak semudah yang mereka bayangkan.

Film ini berakhir dengan pertanyaan (question ending). Tidak ada penjelasan yang pasti bagaimana akhir dari kisah itu. Hanya saja pesan yang disampaikan melalui film itu adalah rasa keingintahuan anak, hendaklah dijawab dengan bimbingan dari orang dewasa, setiap kesalahan yang diperbuat, pasti disertai dengan sebuah nilai pembelajaran.

Besok (10/05/13) adalah hari terakhir pemutaran film Eropa. Besok akan disuguhkan beberapa pemutaran film pendek. Saya tidak tahu apakah karena promosi yang kurang efektif atau minat masyarakat yang kurang antusias, penikmat yang hadir saat tadi saya menonton hanyalah sekitar 30 orang, beberapa di antaranya adalah bule. Semoga tahun depan atau event selanjutnya, kegiatan seperti ini bisa semakin berkembang.

Merci,
Ingrid Tambun

Minggu, 21 April 2013

Mursala

Hai kota Medan,

Jumat lalu saya menonton film Mursala, yang mengangkat kisah budaya dan adat Batak, yang juga mengambil lokasi di Tapanuli Tengah. Saya tidak bercerita mengenai jalan cerita filmnya. Hanya saja ini merupakan tanggapan saya setelah menonton filmnya.

Film ini bagus karena telah mengangkat salah satu budaya dan adat istiadat yang ada di Indonesia. Walaupun saya orang Batak, tapi saya juga kurang mengetahui tentang PARNA. Tak lupa juga film ini menonjolkan salah satu keindahan alam Indonesia. Kisah yang diangkat juga menyisipkan pesan sosial mengenai bagaimana keadaan obejek wisata khususnya laut Indonesia yang mengalami kerusakan. Selain itu, kenyataan di lapangan mengenai perjuangan masyarakat yang mulai mengenal bagaimana merawat keindahan laut namun, masih tetap memperoleh nilai ekonomis dari laut tersebut.

Jujur, pada awalnya saya khawatir akan menonton film dokumenter, karena beberapa selentingan dari orang yang telah menontonnya saat premier, mengatakan demikian. Bahkan mereka tidak menyelesaikan menontonnya. Saya, yang memang sedang ingin menonton, mengajak adik saya yang baru saja selesai sidang, untuk bisa sedikit santai.

Untuk koreksi dari film ini, ada beberapa hal yang menarik untuk diperhatikan. Sangat jarang orang Batak yang tinggal di daerah memanggil anaknya dengan sebutan 'sayang'. Bahasa batak yang dipakai agak nanggung. Misalnya, saat Anggiat (Rio Dewanto) sedang berbicara dengan tetua adat, dia menggunakan bahasa Indonesia sementara tetua adatnya memakai bahasa Batak dengan terjemahan. Padahal, momennya akan tepat kalau Anggiat juga berbicara bahasa Batak, jadi 'rasa' budayanya juga terasa. Adegan saat Anggiat selesai diwawancara oleh Clarisa, yang merupakan kekasihnya, terasa sangat kaku, kurang mengena. Selama film diputar, saya agak kesulitan untuk membedakan antara waktu pagi, siang, dan sore, karena pencahayaan di film tersebut cenderung membuat suasana terasa di sore hari (keadaan matahari akan tenggelam) padahal saat itu settingan waktunya sedang pagi dan juga siang hari.

Yah, lebih dan kurangnya film ini adalah pendapat saya pribadi sebagai penikmat film. Saya berharap akan selalu ada film baru yang bernafaskan budaya di Indonesia. Tidak hanya satu budaya saja, namun kiranya budaya dari Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi juga dapat difilmkan. Semoga :)

Salam hangat,
Ingrid Tambun

Kamis, 07 Maret 2013

The Pianist

Selamat sore kota Medan,

masih memantau bagaimana perolehan suara sementara?

Siang ini saya sendiri menonton The Pianist. Lagi - lagi kisah pada masa NAZI ingin membantai Yahudi. Tidak tahu bagaimana, rasanya film yang saya tonton adalah film perang. Tapi hal yang mau saya bagi bukanlah tentang resensi film semata. Saya lebih suka membagi hal baik yang diberikan dari film yang saya tonton.

Wladyslaw Szpilman
Film ini diawalai dengan bahagia, di mana sebuah keluarga berkumpul terdiri dari ayah, ibu, 2 orang saudara perempuan, 1 orang saudara laki-laki dan dia sendiri, Wladyslaw Szpilman (Adrien Brody), seorang pianis terkenal yang bermain untuk radio Polandia. Sebagai keturunan yahudi, nasib membuatnya terpisah dari ayah, ibu dan saudara-saudaranya.

Film ini mengajarkan bagaimana kita harus saling mengasihi saat kita dibatasi oleh 'perbedaan'. Dalam pelariannya, dia ditemukan oleh seorang kapten tentara Jerman, Wilm Hosenfeld ( Thomas Kretschmann), yang mengizinkannya untuk tetap hidup dan bersembunyi di sebuah rumah.

Wilm Hosenfeld
Pada adegan itu, saya berpikir, Tuhan sanggup memakai siapapun untuk menjadi berkat dalam hidup kita, bahkan melalui orang yang ingin menyakiti dan membinasakan kita. Bahkan, akhirnya membantu kita untuk bertahan hidup. Selain itu, teman-temannya yang bukan keturunan Yahudi, juga turut membantunya.

Film ini diangkat dari kisah hidup Szpilman, yang akhirnya meninggal tanggal 6 Juli 2000, pada usia 88 tahun. Hosenfeld sendiri meninggal di camp tahanan milik Rusia di tahun 1952.

Saya bersyukur hidup di lingkungan yang damai, bersama seluruh anggota keluarga saya, kalaupun jarak kami jauh, tapi kami masih bisa berkomunikasi dan kebutuhan hidup terpenuhi.

Satu hal yang masih menjadi pertanyaan saya, saat orang zaman dahulu berjuang agar tidak terjadi perang lagi, mengapa sekarang makin banyak orang yang saling membunuh, menghilangkan nyawa orang lain, untuk suatu masalah yang dapat diselesaikan dengan baik? Sesungguhnya rasa benci hanya mendatangkan sengsara saja.

Dan pada akhirnya, saya sepertinya harus mengulang pelajaran sejarah :) saat menonton film ini.

Salam damai,
Ingrid Tambun

Rabu, 06 Maret 2013

The Boy In The Striped Pyjamas


Apa bagian terbaik dari sebuah peperangan? Faktanya tidak ada yang mendapat keuntungan, bahkan oleh pihak yang unggul dalam peperangan itu sendiri.

Saya bukan orang yang suka menonton film peperangan, tapi saya tertarik menonton film The Boy In The Striped Pyjamas, sebuah film yang berkisah tentang Nazi, kamp, pembantaian, keluarga yang bahagia menjadi keluarga yang berduka.

Kisahnya dimulai saat seorang anak, yang merupakan tokoh utamanya, Bruno (Asa Butterfield) harus pindah bersama keluarganya dan berpisah dengan teman bermainnya, mengikut sang ayah, yang merupakan seorang tentara yang mendapat promosi untuk mengawasi satu kamp di luar kota Berlin.

Home is where the family is, adalah kalimat sakti ayahnya, saat Bruno ingin kembali ke rumah lamanya, karena di rumah barunya, dia tidak punya teman main pastinya, karena wilayah itu steril dari pemukiman sipil.

Seorang anak yang belum paham dengan keadaan yang ada di sekelilingnya, seharusnya diberikan informasi yang benar, sehingga dia memegang nilai yang benar. Namun, dalam film ini, Bruno dan kakaknya diajarkan mengenai nilai/paham yang tidak benar. Saya tidak perlu menjelaskannya di sini.

Silahkan tonton filmnya, karena film ini sejujurnya memberitahu kita bahwa tidak ada hal yang baik dari sebuah peperangan, pembunuhan, bahkan oleh pihak yang berkuasa/menang dalam peperangan itu sendiri pun merasakan kerugian.

Siapa yang menduga bahwa persahabatan justu muncul di antara Bruno dan seorang anak keturunan Yahudi, Shmuel (Jack Scanlon) yang berada di sebuah kamp konsentrasi, yang tidak sengaja di temuinya saat dia bermain di hutan dan menemukan kamp tersebut.

Bruno berpikir bahwa hidup adalah tentang bermain, dia tidak mengetahui bahwa apa yang dikerjakannya akan menjadi sebuah ancaman bagi dirinya dan juga Shmuel, jika hal itu diketahui oleh orang tuanya.

Kalimat "John Betjeman - Childhood is measured out by sounds and smells and sights before the dark hour of reason grows" di awal film, membuat saya berpikir bahwa Shmuel sudah kehilangan masa kecilnya yang indah, walaupun usianya sama dengan Bruno, delapan tahun, karena masa itu sudah digantikan dengan suramnya keadaan di kamp konsentrasi.


Salam damai,
Ingrid Tambun

Selasa, 05 Maret 2013

The Good Guy

"Have you ever been lied to by someone you trusted completely?"
"I've always believed that trust is the single most important thing in a relationship"

Itu beberapa kalimat yang ada di film The Good Guy. Poin yang dapat saya tangkap dari film ini adalah terkadang kita mudah percaya dan menjadi benci kepada orang lain yang bahkan belum kita kenal, hanya karena kita mendapat informasi yang (belum tentu) benar dari orang terdekat kita.

Film ini memang bercerita tentang ketidakjujuran dalam sebuah hubungan. Kisah yang sangat umum terjadi dalam sebuah hubungan sosial pertemanan atau hubungan yang lebih pribadi lagi, seperti percintaan.

Tokoh utama dalam film ini ada 3 orang, Beth (Alexis Bledel), Tommy (Scott Porter) dan Daniel (Bryan Greenberg). Kisahnya tentang bagaimana seorang Tommy, kekasih Beth, mampu bermain 'cantik' untuk menutupi identitas dirinya sebagai seorang 'pemain''. Di awal film kita agak sedikit bingung, namun kalau kita tonton selanjutnya, kita akan paham, bagaimana permainan pria itu. Daniel, seorang pria culun pecinta bacaan sastra, awalnya, tidak mengerti bagaimana bermain 'cantik' dalam pekerjaan dan bahkan dalam percintaan. Mantan tentara, yang akhirnya ingin kembali memulai perjalanannya dan berhenti bekerja.

Ada satu momen, dimana Beth bertemu dengan Christy di sebuah cafe. Beth ingin menyampaikan kepada Christy agar berhenti mengganggu hubungannya dengan Tommy. Christy mulanya berpikir, bahwa Beth adalah satu dari beberapa mantan Tommy, karena menggunakan kalung yang sama dengan yang digunakannya. Momen yang paling keren untuk menjadi pelajaran, bahwa segala sesuatu dapat dibicarakan dengan baik, sehingga informasi yang jelas dan benar dapat diperoleh.

Berbeda dengan adegan yang biasa ditemui di sinetron Indonesia, kalau ada selisih paham di antara sesama perempuan, maka yang akan terjadi berikutnya adalah adegan cakar, jambak, makian dll, yang pada akhirnya akan merugikan diri sendiri.

Silakan tonton film ini. Dan salah satu soundtrack yang saya suka adalah (di bawah ini):

Let's Go Sailing - Sideways

Pesan moral: seperti iklan yang ada di tv, kalimat: "gak semua yang loe dengar itu benar" sepertinya menjadi poin penting untuk kita cerna.


Salam hangat,
Ingrid Tambun

Kamis, 21 Februari 2013

Benjamin Carson

Image: Wikipedia
Saya sangat senang menonton film. Dan hari ini saya menonton film GIFTED HANDS, film yang diangkat dari kisah nyata kehidupan Dr. Ben Carson, seorang ahli bedah otak (khususnya saraf di otak) yang berhasil memisahkan bayi kembar siam yang kepalanya menyatu.

Yang menarik dari film ini adalah bukan menampilkan keseluruha keberhasilan Dr. Ben, tapi bagaimana usahanya menjadi seorang dokter. Ben kecil adalah seorang anak yang temperamental. Itu karena lingkungannya yang selalu mengolok-oloknya karena dia gagal dalam mengikuti pelajaran di kelas. Dia tidak bodoh, hanya saja karena keterbatasan biaya, ibunya baru mengetahui kalau mata Ben sudah rabun, sehingga tidak mampu melihat ke arah papan tulis dan harus memakai kacamata. Nilai Ben mengalami peningkatan setelah dia menggunakan kacamata, hingga suatu hari ibunya mewajibkannya harus membaca 2 buah buku dan membuat resume dari setiap buku yang dia baca.

Ibu Ben buta huruf, jadi agar anak-anaknya tidak mengetahui kelemahannya, ibunya selalu beralasan belum punya cukup uang untuk membeli kacamata (padahal bukan karena rabun). Karakter ibu Ben di film ini adalah seorang wanita tangguh, pekerja keras, sangat ingin anak-anaknya berhasil meraih cita-cita. Seorang wanita yang selalu memberi dukungan penuh terhadap anak-anaknya, terutama dalam hal pendidikan, walaupun keuangan terbatas.

Ketika Ben diolok-olok di sekolah, dia katakan ini agar anaknya dapat memiliki kepercayaan diri.
"You just got to see beyond what you can see. You can do anything, anybody else can do. Only you can do it better. God will not abandon you"

Ben remaja sempat mengalami masalah dengan emosi yang tidak dapat dikendalikan saat dia merasa terganggu. Karena emosi, dia hampir membunuh temannya, Tuhan menyelamatkannya. Dia sungguh menyesal setelah sadar bahwa dia hampir saja membunuh temannya dan mengubur harapan ibunya. Tuhan bekerja dengan banyak cara, salah satunya adalah ketika Ben menusuk temannya dengan pisau, ternyata pisaunya patah mengenai kepala tali pinggang.

Momen yang menyentuh  di film ini adalah saat istrinya Ben mengalami keguguran. Ben harus menghadapi kenyataan bahwa dia kehilangan calon bayi kembarnya, padahal dia selalu mampu menyelamatkan pasiennya yang masih anak-anak. Saat menjelang operasi, bahkan sang istri masih berada di rumah sakit, dia harus mampu mengontrol emosi kesedihannya. Sepulang dari rumah sakit, hal yang dia temui di rumah adalah kamar yang masih berantakan dan seprai yang masih terdapat bercak darah istrinya.

Secara pribadi, Gifted Hands merupakan film yang mengajarkan bahwa kita harus bersungguh-sungguh meraih cita-cita dan bersandar kepada Allah, karena setiap kejadian dalam hidup kita mengajarkan nilai. Memakai hidup kita untuk kemuliaanNya.

Saya tidak tahu, tapi pagi tadi ayat bacaan saat teduh saya adalah mengenai rupa-rupa karunia. Tuhan memberikan talenta kepada kita, tidak selalu sama satu dan yang lain. Namun, Tuhan menginginkan kita dapat melayaninya dengan talenta yang Allah berikan dalam hidup kita dan saling mendukung satu dan yang lainnya. Ayat ini sangat sejalan dengan film yang saya tonton tanpa rencana yang saya buat. Apapun itu, Allah ingin agar hidup kita dipakai untuk kemuliaannya dan saat kita dipanggilNya, kita dapat mempertanggungjawabkan hidup kita.

Selamat melayani,
Ingrid Tambun

Rabu, 30 Desember 2009

Menghabiskan waktu liburan dengan menonton

-->
The Sisterhood of Traveling Pants
Amber Tamblyn : Tabitha Tomko Rollins a.k.a Tibby rollins
America Ferrera : Carmen
Blake lively : Bridget Vreeland
Alexis bledel : Lena Kaligaris
Durasi : 104 menit
Sutradara : Ken Kwapis
Produser : Debra Martin Chase dan Kira Davis
Penulis skrip : Ann Brashares
Sekali waktu ada celana, hanya celana jins biasa, tidak ada yang istimewa, hingga suatu hari celana itu ditemukan oleh Carmen, satu dari empat perempuan yang bersahabat sejak dalam kandungan ibu mereka. Mereka – Carmen, Tibby, Bridget dan Lena – menjadikan celana ini teman dalam menghabiskan waktu liburan mereka.
Carmen, mengunjungi ayah kandungnya, Tibby bekerja selama musim panas di Wallman’s, Bridget mengikuti kamp sepakbola di Baja, Meksiko, dan Lena mengunjungi kakek dan neneknya di Yunani.
Antara film dan buku memang selalu punya banyak perbedaan. Dan perbedaan itu sangat, sangat mencolok. Urutan kelahiran antara keempat sahabat itu berbeda di buku dan di film. Jika di buku urutannya adalah Lena pada bulan Agustus dan terakhir lahir adalah Carmen, namun, di film, yang pertama lahir adalah Bridget, dan itulah yang membuat dia selalu jadi pemimpin.
Hubungan antara Kostos dan keluarga kakek Lena awalnya baik, jika di bukunya. Namun, di film berbeda lagi, keluarga Kostos memang sudah menjadi musuh kakek Lena.
Tapi, walaupun begitu, film berdurasi 104 menit ini masih layak untuk ditonton, walaupun akan sedikit membuat bingung penonton yang telah membaca bukunya.
OST. The Sisterhood of Traveling Pants

Time of Our Lives : Paul Van Dyk
I Want You To Know : Chantal Kreviazuk
Unwritten : Natasha Bedingfield
Nothing Can Bring Me Down Today : Jill Stefani
Black Roses Red : Aloma Grace
If God Made You : Five For Fighting
Shhhhh : Kumbia Kings
Come Back Around : Jill Stefani
No Sleep To Nite : The Faders
Bebe Your Love : Rachel Yamagota
Sun’s Gonna Rise : Shannon Curfman
Closer To You : Brandi Corlite
These Days : Chantal Kreviazuk

Ballroom Dance

Shall We Dance??
Richard Gere : John Clark
Susan Sarandon : Beverly Clark
Jennifer Lopez : Paulina
Sutradara : Peter Chelsom
Produser : Simon Fields
Baru mengetahui kalau ballroom dance begitu keren dan anggun. Dan karena selesai menonton film itu, ada keinginan untuk belajar menari. Sebenarnya bukan karena film ini yang membuat keinginan belajar itu. Keinginan itu sudah ada dan ketika selesai menonton film ini, makin besarlah keinginan untuk belajar ballroom dance, seperti waltz.
Ceritanya bermula ketika John Clark (Richard Gere) mengalami kejenuhan dalam kehidupannya. Dia bahagia dengan istri dan anak – anaknya, hanya saja rutinitas yang monoton membuatnya perlu mencari sesuatu yang baru.
Dalam perjalanan pulang dari kantor, dia selalu melewati tempat kursus ballroom dance, Miss Mitzy’s. Di jendela yang sama di bangunan tempat kursus tersebut, dia selalu melihat seorang perempuan (Jennifer Lopez) yang sama, memandang ke luar, dari jendela tersebut. Dia tertarik untuk mengenal lebih jauh perempuan yang sepertinya mengajar di tempat kursus itu, hingga akhirnya memutuskan untuk mendaftar.
John menutup rapat kegiatan kursusnya, karena dia malu istri dan anak – anaknya tahu kalau dia kursus menari. John begitu menikmati aktivitas barunya. Dia bergairah dalam melakukan aktivitas apapun. Hingga Beverly (Susan Sarandon), istrinya merasa curiga dengan perubahan yang terjadi pada suaminya. Bev memutuskan memakai jasa detektif. Hasilnya, dia mengetahui suaminya mengikuti kursus ballroom dance.
Kata – kata yang diucapkan dalam film ini begitu bagus, menyentuh, dan hidup. Beberapa di antaranya: John Clark’s Quote
The one thing I’m proudest of in a whole life, is that you are happy with me. If I couldn’t ,,,If I couldn’t tell you that I was unhappy sometimes, it was because I didn’t want to risk hurting, the one person I treasure most.
♥ Ini di katakan John setelah istri dan anaknya menontonnya mengikuti pertandingan ballroom dance.
Beverly Clark : Why aren’t you at the party?
John Clark : Oh, because it’s a dance and to dance you need a partner, and my partner is right here
Percakapan ini terjadi saat John mendapatkan undangan pesta perpisahan dari Paulina (Jennifer Lopez). Awalnya dia tidak ingin mengikuti pesta itu, hingga akhirnya dia menerima tuxedo dan sepatu khusus ballroom dance dari istrinya. John menemui Bev di tempat kerja Bev dan akhirnya terjadilah percakapan itu ☺
OST. Shall We Dance? :

Give You More : Taxi Doll
Livin’ It Up : Ja Rule
Blue Rhumba : Rolley Polley
Taking A Ride : Kari Kimmel
I Can Believe Anything : Sourcere
Sway : The Pussycat Dolls
TheBook Of Love : Peter Gabriel
Lets Dance : Mya