Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Januari 2017

Membuka lembaran hidup baru dengan berbenah



Judul : The Life-Changing Magic of Tidying up (Seni Beres-Beres dan Metode Merapikan ala Jepang)
Penulis : Marie Kondo
Penerjemah : Reni Indardini
Tebal : 206 halaman
Penerbit : PT Bentang Pustaka

Adakah dari antara kita yang masih sering menyimpan barang karena alasan historis, padahal kita sendiri tidak yakin membutuhkan barang tersebut, tidak suka akan barang tersebut, namun masih terus menyimpannya? Atau barang tersebut kita simpan dengan anggapan pasti akan berguna di lain waktu, padahal setelah beberapa waktu lamanya, kita tidak ingat pernah menyimpan barang tersebut?

Mungkin itu adalah beberapa pertanyaan menggelitik bagi kita yang akhirnya menyadari bahwa ternyata rumah kita atau dalam lingkup lebih sempit, ternyata kamar kita tidak cukup muat untuk menampung banyaknya barang yang kita simpan tanpa tahu apakah kita memang membutuhkannya atau apakah itu mendatangkan kebahagiaan bagi kita.

Saya adalah seorang manusia yang suka akan memori. Saya senang menyimpan sesuatu hal yang mengandung nilai histori bagi saya pribadi. Saya punya banyak pin (peniti berkarakter atau bergambar) yang saya kumpulkan saat saya kuliah, karena dulunya saya rasa itu keren sekali.

Saya punya banyak bungkus coklat yang saya makan bersama orang-orang di masa lalu dan akhirnya saya sadari saat ini sangat konyol  dan membuat saya tertawa saat saya membongkar kamar saya.
Saya punya banyak kertas warna – warni yang saya beli dan saya simpan diberbagai tempat berbeda dan ketika saya berbenah saya tersenyum mendapati betapa banyaknya kertas yang saya beli tanpa pernah saya gunakan karena lupa sudah membeli. Ya saya membeli bukan karena butuh, tapi karena senang dengan warnanya. Penyakit wanita, suka terbawa perasaan.

Saya tipe orang yang jarang membeli baju. Jujur, saya selalu dikelilingi dengan orang yang berbaik hati melungsurkan pakaian masih sangat layak pakai dan bisa jadi punya merek dan memberikan kepada saya. Kenyataan bahwa saya dan dua orang adik saya yang sama-sama beranjak besar dan badan saya yang selalu tetep pada posisi timbangan kisaran 45-50 kg membuat saya tidak pernah merasa kekurangan baju. Oleh sebab itu, saya mengalihkan pos belanja saya kepada jajanan dan akan sangat berlebih dalam membeli buku atau alat tulis yang unik.

Itu adalah kisah saya mengumpulkan barang secara terus menerus dan kebingungan bagaimana membereskannya serta membuat kamar saya menjadi lega dan hangat (dalam artian saya masih menyimpan kenangan yang menyenangkan).

Konon, “kamar yang berantakan adalah cermin dari pikiran yang berantakan. Tahap awal berbenah menurut KonMari, demikian metode itu dikenal adalah dengan mulai membuang semua barang sampai tuntas. Namun, sebelum mulai visualisasikan tujuan kita, akan seperti apa ruangan yang kita harapkan untuk dihuni. Lalu, saat proses membuang barang sampai tuntas, kriteria seleksinya adalah: Apakah barang tersebut benar-benar membangkitkan kegembiraan kita atau tidak.

Untuk tahap awal, jangan dimulai dengan benda yang memiliki kenangan. Urutan yang baik adalah dimulai dengan pakaian, buku, kertas, pernak-pernik dan terakhir kenang-kenangan. Sewaktu dihadapkan pada sesuatu yang tida tega untuk dilepaskan, pikirkan dengan seksama peranan sejati benda tersebut dalam hidup kita. Agar bisa sepenuh hati mensyukuri hal-hal yang penting bagi kita, pertama-tama kita harus membuang barang yang sudah tidak bermanfaat bagi kita. Bukan berarti benda tersebut tidak ada nilainya lagi, namun, nilai benda tersebut akan bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkannya.

Buku ini terdiri atas lima bab yang dapat dengan mudah kita cerna informasinya. Kita diajak untuk menentukan apa yang benar-benar kita inginkan dalam hidup kita melalui kegiatan berbenah yang tepat. Kita akan mengetahui seperti apa kita ingin menjalani hidup. Proses mencermati dan menyeleksi barang –barang milik kita bisa saja menyakitkan. Proses itu memaksa kita untuk secara jujur menghadapi ketidak sempurnaan diri kita dan kekurangan kita. 

Kehidupan yang sebenar-benarnya baru dimulai sesudah kita membenahi rumah.

Sabtu, 28 Januari 2017

Belajar tidak cepat menyerah dan mencoba hal baru



Judul : Si babi ungu dan cerita-cerita lain.
Penulis : Enid Blyton
Penerjemah : Indri K. Hidayat
Tebal : 102 halaman
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Dalam hal membaca, akan ada sesuatu atau beberapa hal yang akan saya petik pelajarannya bagi diri saya atau berupa perbaikan dan teguran untuk menjadi pribadi yang lebih baik, atau berupa kalimat yang akan saya catat karena penulisnya saya rasa cerdas dalam hal menyampaikannya kepada saya. Dalam buku cerita anak ini, saya mengalami kedekatan emosi terhadap dua kisah.

Kisah pertama berjudul “Garry si Cepat Berputus Asa dan Fanny si Pantang Menyerah”. Misi Garry adalah pergi ke pasar untuk membeli tepung agar ibu bisa membuat roti. Namun, jalanan becek berlumpur dan air sungai meluap. Batu-batu besar menumpuk di tepi sungai dan menghalanginya untuk menyebrangi sungai. Ia bertopang dagu di tepi sungai meratapi nasibnya yang tidak mungkin pulang sebelum membawa pulang tepung pesanan ibunya, sebab ibunya akan sangat marah. Garry senang mencari alasan saat menghadapi tantangan. Itu sebabnya ibunya marah jika ia pulang dengan tangan kosong. Lalu Fanny datang dan melihat Garry duduk bersedih. Garry menceritakan keadaannya dan ditanggapi positif oleh Fanny. Fanny melihat tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Ia bahkan memanfaatkan batu besar yang ada di tepi sungai menjadi titian untuk menyeberang.

Ya, pesan moralnya bagi saya adalah di mana ada kemauan di situ ada jalan. Terkadang sesuatu yang bukan masalah yang berarti bisa menjadi kelihatan besar hanya karena kurang upaya untuk mencari jalan keluarnya.  
Kisah kedua berjudul “Tak Berani” yang bercerita mengenai Alec yang tidak berani mencoba hal baru hanya karena khawatir, takut kalah, takut lucu, takut gagal, ya semua karena ketakutan. Suatu saat Alec bermain sendiri saat pergi ke pantai bersama ibunya. Betapa banyak anak-anak sebayanya yang mengajaknya bermain bersama. Namun, Alec menolak. Seorang lelaki yang bertugas mengajak anak-anak melakukan aktifitas yang menyenangkan. Pria itu mengambil hati Alec dengan mengajaknya bermain pasir dan membeli es krim. Alec merasa memiliki teman. Suatu ketika Alec mendapati teman barunya, pria pantai, tersebut membutuhkan bantuannya. Topinya terbang terbawa angin ke arah laut. Semua anak-anak mencoba membantu pria tersebut. Alec berlari melesat melewati anak-anak lainnya. Ia mendapatkan topi pria pantai tersebut dan semua orang memuji Alec.

Saya menyadari bahwa zona nyaman tidak membantu saya berkembang. Ketika saya tidak terdesak saya akan merasa tidak ada yang perlu saya kembangkan dari diri saya. Belajar mengendarai motor misalnya. Akhirnya saya pernah mencoba untuk mengendarainya dengan ditemani oleh adik saya. Saya hanya perlu berulang-ulang dengan sabar terhadap diri sendiri hingga akhirnya menjadi mahir.

Sabtu, 20 Februari 2016

Daud dan Goliat::Kemenangan yang mustahil (bagian 1, semoga ada susulannya)

Kisah Daud dan Goliat dan bagaimana hal tersebut juga dapat terjadi dalam keseharian kita. Bagaimana terkadang kita memandang diri kita sebagai seorang yang kerdil dan tidak kuasa melawan “raksasa” kehidupan buatan pikiran kita.
Hampir semua dari kita telah mengetahui kisah Daud dan Goliat. Goliat adalah raksasa yang dikirim oleh bangsa Filistin untuk menguasai daerah yang sedang diperebutkan dengan bangsa Israel. Tingginya sekitar enam kaki. Ia membawa lembing, tombak dan pedang. Seorang pembantu mendahuluinya membawa perisai baginya.

Begitu sangat besarnya badan Goliat, maka dengan sombongnya ia berteriak dihadapan bangsa Israel: “pilihlah seorang dari antara kalian dan aku akan melawannya. Jika ia menang melawanku, kami akan menjadi hamba kalian. Namun, jika tidak demikian, kalian akan menjadi hamba kami dan akan melayani kami”.

Bangsa Israel yang mendengarnya dari daerah mereka berdiam, ketakutan. Tidak ada satupun yang berani menghadapi lawan yang mengerikan. Hingga akhirnya seorang gembala yang baru turun dari Betlehem karena akan mengantar makanan untuk saudara-saudaranya, maju dan menawarkan diri.

Raja Saul enggan karena melihat betapa mudanya ia. Namun, si gembala tersebut bersikukuh. Menurut pandangan si gembala tersebut, ia telah berpengalaman dalam menghadapi lawan yang lebih ganas dari yang ada saat ini, ketika ia menggembalakan dombanya. Ketika seekor singa maupun beruang datang dan menangkap dombanya dari kawanannya, maka ia akan menghajarnya dan menyelamatkan dombanya dari cengkraman singa atau pun beruang tersebut.

Saul tidak punya pilihan dan akhirnya merelakannya. Pemuda itu berlari menuruni bukit, menemui raksasa tersebut di lembah. Raksasa itu melihat lawannya datang dan berteriak: “datanglah padaku dan aku akan memberikan tubuhmu kepada burung di udara dan binatang buas di darat”

Begitulah kisah pertarungan yang amat mashyur tersebut. Pria penggembala tersebut bernama Daud. Ia bertarung melawan Goliat.

Dalam kehidupan sehari-hari kita, saya rasa kita juga berganti peran. Terkadang kita menjadi si penggembala tersebut. Mungkin juga terkadang kita menjadi si raksasa tersebut.

Menurut Malcolm, hal yang bernilai di dunia ini timbul karena konflik yang tidak berimbang yang menghasilkan kebesaran dan keindahan karena tindakan kita dalam menghadapi rintangan ataupun ‘raksasa’ yang besar tersebut. Menurut saya, cara kita menghadapi 'raksasa' tersebut, yang menurut kita tidak seimbang dengan kita yang 'kerdil' ini, akan memberikan kita suatu teknik menjalani hidup dengan lebih indah dan menjadikan kita berkembang.

Selain itu kita sering salah menanggapi masalah ataupun ‘raksasa’ yang menghampiri kita. Kita salah mengartikannya. ‘Raksasa-raksasa’ tersebut tidak seperti yang kita pikirkan. Kita selalu memberi energi kepada ‘raksasa’ tersebut yang sering kali bersumber dari ketakutan yang besar.

Lucunya, kita yang sering merasa tertindas oleh ‘raksasa-raksasa’ tersebut, sering kali salah memaknainya, bukan sebagai suatu kesempatan yang mendidik, mencerahkan dan memungkinkan apa yang orang lain pikirkan tidak mungkin.

Saya pernah mendengar kalimat ini ‘Ketakutan itu seperti bayangan. Dia lebih besar daripada objek/benda yang dikenai oleh cahaya’ Ketakutan itu hanyalah kesemuan. Maya. Dan dibuat oleh pikiran kita sendiri.

Saya sendiri juga selalu mencoba bertarung melawan ‘raksasa’ yang saya ciptakan dengan pikiran saya di dalam khayalan saya sehingga saya urung memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi hak saya.

Ini adalah sebagian pemaknaan saya setelah membaca bab permulaan ‘David And Goliath – Malcolm Gladwell’ yang saya coba bagikan dalam bahasa Indonesia. Belum mendalam karena saya sedang bertahap menyelesaikan bab selanjutnya. Senang jika ternyata ada yang mau bertukar pikiran akan kisah menarik ini atau kisah lainnya.

Pesan: Kehadiran raksasa di sini bukan hanya sebatas mahluk yang berwujud besar (kata benda), seperti orang yang punya kekuasaan ataupun kekayaan. mungkin bisa jadi berupa tantangan, rintangan (kata sifat), seperti keluar dari zona nyaman. Menurut saya ya :p

Salam hangat,
Ingrid Tambun

Selasa, 09 April 2013

Life Traveler - Windy Ariestanty

Bonjour Medan :)

Saya sudah selesai membaca buku Life Traveler-nya Windy Ariestanty. Sejujurnya, setiap kali saya membuka buku kisah perjalanan, saya selalu mencari bab ataupun sepenggal kisah negara Prancis atau kota Paris. Kalau nanti ada rejeki ke sana kan sudah tahu apa tujuan wisata dan bagaimana menikmatinya.

Saya merasa beruntung, setiap kali membuka buku yang bercerita tentang perjalanan ke Eropa, Prancis pasti akan ada dalam daftar negara yang dikunjungi oleh si penulis, walaupun cuma singgah sebentar :)

Maka, saat saya menikmati buku ini, saya menikmati kota Paris dalam imajinasi mulai halaman 261 - 321. Saya percaya sewaktu Windy bilang orang Indonesia banyak ditemui di pusat perbelanjaan mewah, khususnya di gerai Louis Vuitton (LV) di Paris. Lucunya, selera orang Indonesia sepertinya hampir sama, terbukti dari satu model barang yang habis diborong oleh konsumen yang mayoritas berasal dari Indonesia. Saya juga baru tahu, bahwa LV memiliki staf khusus untuk melayani tamu dari China dan Jepang. Saya bisa membayangkan ketika hendak membeli barang, konsumen yang tidak bisa bahasa Prancis APALAGI bahasa Inggris, akan menggunakan bahasa tubuh untuk menunjukkan barang yang ingin dibeli. Haghaghag.

Maka, tempat yang begitu menarik perhatian saya untuk dikunjungi di Paris:
1. Galeries Lafayette, bagian atapnya.
Saya terkagum-kagum saat membaca dan berimajinasi tentang keadaan di atas atap dari mal megah nan cantik yang memampukan orang yang berada di atasnya untuk melihat pemandangan indah kota Paris, terutama di saat matahari akan tenggelam. Kubah kaca raksasa yang menjadi ciri khas bangunan ini juga begitu mempesona (berdasarkan fotonya).

2. Point Zero
Tidak banyak orang yang berkisah tentang Point Zero, tapi saat saya mengetahuinya dari Windy, saya tertarik untuk mengunjunginya, terlepas dari legenda yang mengatakan bahwa jika kita menginjakkan kaki di Point Zero maka kita akan kembali lagi ke Paris. Benar atau tidaknya, saya tetap ingin kesana :)

3. Arc de triomphe du carrousel, monumen elegan berbentuk Pelengkung kemenangan di Paris yang berdiri di tengah area Place de l'Étoile, di ujung barat wilayah Champs-Élysées. Bangunan ini dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte dengan tujuan untuk menghormati jasa tentara kebesarannya.

4. Notre Dame dan Saint Chapelle, bangunan bergaya gotik yang seni kaca patrinya luar biasa.

5. Museum Louvre, mau lihat senyum Monalisa yang terkenal itu dan melihat sejarah keseniannya.

6. Menara Eiffel, pastinya untuk melihat keindahan kota Paris dari puncak menara.

Dan, buku setebal 382 halaman ini, menambah informasi bagi saya yang belum pernah ke luar negeri, selain Malaysia. Berharap suatu hari nanti bisa menikmati Indonesia dan negara Asia (juga PARIS di Eropa) lainnya dalam keanekaragaman budayanya. AMIN.


Salam,
Ingrid Tambun

Senin, 08 April 2013

Cerita Windy tentang orang Swiss

Selamat pagi Indonesia,

Saya hampir menyelesaikan membaca buku Windy Ariestanty - LIFE TRAVELLER yang kemarin saya pinjam dari perpustakaan LIA Medan. Ada hal menarik mengenai perjalanannya yang dia ceritakan di buku tersebut dan menarik untuk saya bagikan dalam tulisan ini.

Pada hal 244, Windy bercerita mengenai penduduk Swiss yang menganggap sumber kebahagian mereka adalah bebas dari rasa iri.Walaupun Swiss adalah negara kaya, namun penduduknya tidak suka pamer kekayaan. Kalimat 'Don't shine the spotlight too brightly on yourself or you might get shot'. Windy sendiri mengetahuinya dari buku Eric Weiner. Penduduk Swiss cenderung menghindari pembicaraan tentang uang dan lebih memilih bercerita tentang urusan kelamin dari pada duit yang mereka miliki.

Saya tersenyum membacanya. Di sana, semakin kaya seseorang, semakin bersahaja penampilannya. Saya jadi ingat tayangan di stasiun televisi Indonesia yang isinya membuat acara ubek-ubek rumah, kamar bahkan sampai lemari selebriti Indonesia. Ada lagi yang mobil, tas bahkan dompetnya juga diperiksa untuk dipamerkan ke masyarakat. Norak rasanya. Sama noraknya dengan lembaran majalah yang isinya adalah menilai harga pakaian, aksesories, gadget dan printilan lain-lain yang dikenakan oleh si 'korban' yang tertangkap basah oleh kamera. Rasanya orang tersebut seperti 'dikuliti hidup-hidup' oleh mata pembacanya untuk dinilai berapa 'harga' diri atas barang yang dikenakan.

Saya tidak paham apa manfaatnya bagi masyarakat atas tayangan dan juga halaman media cetak tersebut menampilkan hal tersebut. Rasanya seperti meminta pengakuan dari orang lain dengan bilang 'saya cukup mampu membeli ini semua dengan harga seperti ini. Saya tidak mati gaya' Haghaghag.

Saya tidak tahu apakah ada hubungan pepatah 'padi kian berisi, kian merunduk' dengan keadaan ekonomi seseorang. Karena biasanya pepatah tersebut dipakai untuk menunjukkan intelektualitas seseorang. Tapi, sepertinya itu berlaku pada penduduk Swiss.

Selamat beraktifitas Indonesia.

Salam,
Ingrid Tambun

Jumat, 22 Februari 2013

The Alchemist (Sang Alkemis) - Paulo Coelho


Ini adalah beberapa kalimat menarik yang saya kutip dari novel:

Judul: The Alchemist (Sang Alkemis)
Pengarang: Paulo Coelho
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Edisi/ cetakan: Cetakan Keenam
Tahun: 2008
Tebal: 213 halaman

  • Dalam hidup ini, justru hal – hal sederhanalah yang paling luar biasa, hanya orang – orang bijak yang dapat memahaminya. (hal.22)
  • Kalau kita bergaul dengan orang yang sama setiap hari, pada akhirnya kita menjadi bagian dari hidup orang itu. (hal.23)
  • Orang tampaknya selalu merasa lebih tahu, bagaimana orang lain seharusnya menjalani hidup, tapi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup sendiri. (hal.23)
  • Dusta terbesar di dunia: bahwa pada satu titik dalam hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada kita, dan hidup kita menjadi dikendalikan oleh nasib. (hal. 26)
  • Takdir adalah apa yang selalu ingin dicapai. Semua orang ketika masih muda tahu takdir mereka. (hal.30)
  • Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya. (hal.31)
  • Kalau kau memulai dengan menjanjikan sesuatu yang belum kau miliki, kau akan kehilangan hasratmu untuk berusaha memperolehnya. (hal.34)
  • Kalau setiap hari terasa sama saja, itu karena orang-orang tidak menyadari hal indah yang terjadi dalam hidup mereka setiap hari, seiring terbitnya matahari. (hal.37)
  • Tidak ada yang menahan kita meraih mimpi, kecuali diri kita sendiri.
  • Tuhan telah menyiapkan jalan yang mesti dilalui setiap orang, kita hanya perlu membaca pertanda- pertanda yang ditinggalkanNya.
  • Rahasia kebahagiaan adalah dengan menikmati segala hal menakjubkan di dunia ini, tanpa pernah melupakan tugas dan tanggung jawab serta talenta yang telah dititipkan kepada kita.
  • Kita takut akan kehilangan apa yang kita miliki, entah itu hidup hidup kita, harta benda kita, ataupun tanah kita. Tapi, rasa takut ini menguap begitu kita memahami bahwa kisah-kisah hidup kita dan sejarah dunia itu ditulis oleh tangan yang sama (hal.99)
  • Fatamorgana adalah hasrat-hasrat yang begitu kuat, sehingga muncul dan mengambil wujud di pasir gurun. (hal.129 – 130)
  • Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang! Sahut sang alkemis. (hal.149)
  • Kau harus mengerti, cinta tak pernah menghalangi orang mengejar takdirnya. (hal.155)
  • Katakan pada hatimu, rasa takut akan penderitaan justru lebih menyiksa daripada penderitaan itu sendiri. (hal.167)
  • Hanya ada satu hal yang membuat orang tidak bisa meraih impiannya: takut gagal. (hal.182)
  • Apa yang terjadi satu kali, tidak bakal terjadi lagi. Tapi, apa yang terjadi dua kali, pasti akan terjadi untuk yang ketiga kali. (hal.200)
  • Setiap orang di dunia ini, apapun pekerjaannya, memainkan peran penting dalam sejarah dunia. (hal.203)
  • Dimana hartamu berada, disitulah hatimu berada. (hal.204)

Selasa, 13 November 2012

Marah Dengan Cinta


Judul Buku          : Marah Dengan Cinta (The Complete Marriage Book)
Penulis              : David Stoop dan Jan Stoop
Penerbit             : Andi
Edisi/ Cetakan       : Keenam
Tahun                : 2009
Tebal                : 37 halaman
Proses membangun pernikahan dimulai dari hubungan asmara yang awalnya terasa menggairahkan, meyakinkan dan menyenangkan di masa pacaran. Memasuki pernikahan, hubungan tersebut dengan sendirinya menuntut agar pasangan suami-istri memiliki kekuatan dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk mewujudkan pernikahan yang bahagia.
Pernikahan menunjukkan sejauh mana kita mampu merundingkan berbagai hal dan seberapa terampil kita mampu menyelesaikan konflik. Saat dua orang hidup bersama dengan komitmen untuk meningkatkan kedekatan, keterbukaan, dan keintiman, maka potensi untuk mengalami luka, sakit hati, frustasi dan kesalahpahaman serta marah menjadi sangat besar.
Sebelum memasuki pernikahan, sebaiknya perlu memahami dan mengetahui ungkapan kemarahan diri dan pasangan. Menurut kamus Webster, marah adalah gejolak emosi yang dipicu oleh rasa tidak suka yang sangat kuat. Marah merupakan perasaan tersinggung atau tidak senang yang begitu kuat. Marah mencakup keadaan siap secara fisik. Saat kita marah, pikiran dan tubuh kita bersiap untuk bertindak. Marah melibatkan energi fisik dan emosi.
Sebagian besar orang lebih sering mengalami marah daripada mengakuinya. Emosi marah dapat menghasilkan energi yang sangat besar untuk memperbaiki kesalahan dan mengubah berbagai hal untuk kebaikan. Kita sering gagal untuk melihat bahwa masalah yang Tuhan izinkan terjadi kepada kita, sebenarnya merupakan kesempatan emas untuk belajar, bertumbuh dan dipakai Allah untuk melakukan perubahan ke arah kebaikan.
Kita mungkin memiliki kendali minimal atas kenyataan bahwa kita marah, tetapi kita memiliki kendali penuh untuk memilih cara mengungkapkan kemarahan. Menggunakan energi marah dengan bijak dapat memberikan fokus dan intensitas serta memimpin ke arah produktivitas yang lebih besar.
Langkah sederhana dalam menghadapi kemarahan:
Langkah 1: Menghadapi dengan hati-hati. Menyadari seberapa sering kemarahan muncul, situasi yang memunculkan kemarahan, bagaimana tubuh menghadapi kemarahan, bentuk fisik kemarahan apa yang muncul dari diri sendiri?
Langkah 2: Menerima tanggung jawab. Keadaan di luar kendali diri sendiri dapat menjadi penyebab kemarahan. Namun, kita bertanggung jawab atas tanggapan yang kita pilih.
Langkah 3: Menentukan terlebih dahulu siapa atau apa yang akan memegang kendali. Sewaktu marah, kita tidak selalu dapat mengendalikan diri, tetapi kita dapat meminta pertolongan Allah untuk memilih cara mengekspresikan kemarahan itu.
Langkah 4: Identifikasi sumber dan penyebabnya. Tanyakan padadiri sendiri, situasi dan siapakah yang membuat kemarahan muncul? Bagaimana tanggapan terhadap rasa marah itu?
Langkah 5: Memilih tanggapan Anda. Memanfaatkan kemarahan itu atau menginvestasikannya. Sediakan waktu untuk mengakui pendapat dan perasaan orang lain. Terbukalah untuk meminta maaf dan memberi penjelasan. Pastikan Anda berbicara kebenaran dalam kasih.
David Augsberger memberikan tiga nasihat yang baik dalam mengatasi kemarahan:
  1. Marahlah, namun berhati-hatilah. Karena Anda tidak akan pernah menjadi demikian lemah seperti saat Anda marah.
  2. Marahlah, namunberhati-hatilah, karena kemarahan dapat menjadi gaya hidup.
  3. Marahlah, namun tetaplah baik. Hanya kemarahan yang dimotivasi kasihlah yang membangun dan kreatif.

Komunikasi Mengena


Judul Buku        : Komunikasi Mengena, Meningkatkan Efektivitas Komunikasi Antar Pribadi
Penulis            : A. G. Lunandi
Penerbit           : Kanisius
Edisi/ Cetakan     : Keempat
Tahun              : 1991
Tebal              : 87 halaman
Buku ini ringan untuk dibaca, karena isinya mudah untuk dimengerti dan tidak tebal. Beberapa poin yang dapat aku bagikan setelah selesai membacanya:
Efektivitas komunikasi tergantung pada pertumbuhan mabusia ke arah kedewasaan emosional, bukan fisik melulu; karena bergantung pada kemauan dan kemampuan untuk berubah ke arah perbaikan (hal. 14)
Dalam berkomunikasi, yang terpenting bukan apa yang kita katakan, tetapi apa yang pihak lain dengar. Bukan maksud kita yang penting, melainkan apa yang pihak lain artikan (hal. 21)
Semua orang yang tidak tuli bisa mendengar. Telinga bisa mendengar segala suara, tetapi mendengarkan suatu komunikasi harus dilakukan dengan pikiran dan hati serta segenap indera yang diarahkan kepada si pembicara. Mendengar itu tidak enak, sebab memaksa kita menunda apa yang ingin kita katakan (hal. 35)
Komunikasi pada hakikatnya adalah kegiatan menyatakan suatu gagasan(isi hati dan pikiran) dan menerima umpan balik yang berarti menafsirkan pernyataan tentang gagasan orang lain (hal. 37)
Setiap orang boleh, bahkan sepatutnya mempunyai sistem nilai, mempunyai keyakinan, mempunyai sikap, mempunyai pandangan, mempunyai kepercayaan, mempunyai pendirian. Tetapi, tidak mempunyai kemampuan berkomunikasi kalau ia tertutup untuk mendengarkan, mencerna masukan dari pihak lain (hal. 39)
Untuk melakukan komunikasi yang mengena, pihak-pihak yang berkomunikasi perlu memiliki kepekaan, baik terhadap orang lain maupun diri sendiri (hal. 43)